Senin, 18 Januari 2010

Menahan Amarah

"Dari Mu'adz bin Anas Al Juhani, Rasulullah bersabda : "Barang siapa yang menahan amarahnya sedangkan ia mampu untuk mewujudkannya, Allah akan menyebutkan dan memujinya pada hari kiamat kelak di hadapan seluruh makhluk, hingga dia diberi pilihan untuk mengambil bidadari mana saja yang ia kehendaki" [HR. Tarmidzi , Abu Daud dan Ibnu Majah].

Tak ada manusia yang tak memiliki sifar amarah berapapun kadarnya. Hanya saja, seberapa jauh, masing-masing memiliki kemampuan menahan dan mengendalikannya. Rasulullah mengatakan, orang yang dapat menahan amarahnya, maka Allah akan menjauhkannya dari murka-Nya.

Sang Hujjatul Islam, Syeikh Imam al-Ghazali, dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin nya pernah berkata, “Barangsiapa tidak marah, maka ia lemah dari melatih diri. Yang baik adalah, mereka yang marah namun bisa menahan dirinya.”

Nah, kepada mereka yang mampu menahan rasa marah, Rasulullah mengatakan, “Siapa yang menahan marah, padahal ia dapat memuaskan pelampiasannya, maka kelak pada hari kiamat, Allah akan memanggilnya di depan sekalian makhluk. Kemudian, disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya." [HR. Abu Dawud dan Tirmidzi].

Salah satu cara menahan amarah adalah dengan diam. Rasulullah pernah berkata, “Bila seorang dari kamu sedang marah hendaklah diam.” [HR. Ahmad].

Cara lain menahan amarah kata Rasulullah adalah membaca ta`awudz: “Inni La a’lamu kalimatan, lau qaa lahaa dzahaban anhu, maa yajidu, lau qaa la: A’uddzu billahi minasy syaithonir rojim.” (Saya tahu suatu kalimat yang jika diucapkan seseorang, tentulah akan dapat memadamkan nafsu amarahnya. Yaitu, A’uddzu billahi minasy syaithonir rojim). [al hadits]

Tips Menghindari Amarah

1. Nabi menganjurkan membca ta`awudz. “A’uddzu billahi minasy syaithonir rojim.” [Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk).

2. Diam atau tak bicara guna menjaga ucapan kita. “Apabila diantara kalian marah maka diamlah.” Beliau ucapkan tiga kali. [HR. Ahmad] )

3 . Berwudu. "Sesungguhnya marah itu dari setan dan setan itu diciptakan dari api, dan api itu diredam dengan air maka apabila di antara kalian marah, berwudulah" (H.R. Ahmad).

Ikhlas

"Amal yang dilakukan tanpa IKHLAS dan pasrah bagai musafir yang membawa pasir sehingga memberatkan dan tidak bermanfaat apa-apa”.

“Fudhail berkata, meninggalkan suatu amal karena orang lain adalah riya’. Sedangkan beramal karena orang lain adalah syirik. Adapun IKHLAS adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya”.

“Suhail pernah ditanya tentang sesuatu yang paling berat bagi diri. Ia menjawab, yaitu IKHLAS, sebab dengan IKHLAS, diri tidak mendapatkan bagian dari apa yang dikerjakannya sama sekali”.

“IKHLAS adalah tidak merasa berbuat ikhlas. Barangsiapa masih menyaksikan KEIKHLASAN dalam IKHLASNYA, maka KEIKHLASANNYA masih membutuhkan KEIKHLASAN lagi”.

“Orang IKHLAS adalah orang yang menyembunyikan kebaikan kebaikannya, sebagaimana ia menyembunyikan keburukan-keburukannya”.

“Komponen IKHLAS adalah, Syukur, Sabar, fokus, Tenang dan Bahagia”.

“Rumus IKHLAS = Do It + Forget It”.

Salam Ikhlas!

Doa:
Allahumma yassir lii jaliisan shalihan, Ya Allah mudahkanlah aku mendapatkan teman yang shalih...
dan jauhkanlah aku dari fitnah fitnah teman yang dzalim.

Hikmah:
Sesungguhnya musuh yang nyata adalah teman, pilihlah teman yang shalih yang membuat diri kita menjadi lebih baik, kalau tidak, selamat menderita...

Kekerasan hati

Kemudian setelah itu hati kalian mengeras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal, di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai darinya, di antaranya lagi ada yang terbelah lalu keluarlah mata air darinya, dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Allah sama sekali tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.'' (QS Al-Baqarah [2]: 74).

Menurut Ibn Abbas, ayat tersebut turun berkaitan dengan sikap Bani Israil yang keras kepala dan keras hati. Dalam memaknai ayat tersebut Al-Qurtubi menyatakan hati manusia bisa mengeras melebihi kerasnya batu karena keringnya hati dari inabah (kembali ke jalan Allah), zikir, dan tadabbur (merenungi) ayat-ayat Allah, baik yang ada dalam Alquran maupun alam raya.

Jika bebatuan yang ada di pegunungan saja menjadi mata air, maka sudah semestinya hati manusia dilatih dan dicerdaskan menjadi oase kehidupan spiritual. Hati yang keras adalah hati yang tidak lagi berfungsi sebagai sumber kekhusyukan, kelemahlembutan, dan kasih sayang.

Kekerasan hati merupakan sumber kesengsaraan hidup. Dari Anas RA Rasulullah SAW bersabda, ''Ada empat sebab kesengsaraan, yaitu kebekuan mata, kekerasan hati, kepanjangan angan-angan, dan ketamakan terhadap dunia.'' (HR al-Bazzar).

Kekerasan hati itu sangat berbahaya karena tidak hanya membutakan akal pikiran dan memperturutkan hawa nafsu, tetapi juga mendangkalkan akidah, bahkan menyesatkan diri dari petunjuk Allah. ''Kecelakaan besarlah orang-orang yang hatinya membatu dari mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.'' (QS Al-Zumar [39]: 22).

Terapi yang efektif untuk penyakit kekerasan hati, menurut Mutawalli Al-Sya'rawi, adalah banyak beristighfar kepada Allah, dan membiasakan diri membaca Alquran. Selain itu juga memperbanyak amalan sunah di samping mematuhi amalan wajib serta menjahui segala bentuk kemaksiatan, kemunkaran, dan hal-hal yang berbau syubhat.

Jika perut telah diisi dengan halal, akal digunakan untuk berpikir positif, dan indera didayagunakan untuk kebaikan, niscaya kekerasan hati tidak terjadi. Karena itu, setelah memperoleh hidayah, kita perlu menjaga hati agar tidak ternodai oleh syirik dan kemaksiatan, sehingga hati tetap teguh dan khusyuk dalam ketaatan. Wallahu a'lam bish-shawab.

100 Resep untuk memperoleh ketenangan hati

100 Resep untuk memperoleh hati yang tenang


1. Bersyukur apabila mendapat ni'mat

2. Sabar apabila mendapat kesulitan

3. Tawakal apabila mempunyai rencana/program

4. Ikhlas dalam segala amal perbuatan

5. Jangan membiarkan hati larut dalam kesedihan

6. Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan

7. Jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan

8. Jangan usil dengan kekayaan orang

9. Jangan hasud dan iri atas kesuksesan orang

10. Jangan sombong kalau memperoleh kesuksesan

11. Jangan tamak kepada harta

12. Jangan terlalu ambisius akan sesuatu kedudukan

13. Jangan hancur karena kezaliman

14. Jangan goyah karena fitnah

15. Jangan bekeinginan terlalu tinggi yang melebihi kemampuan diri

16. Jangan campuri harta dengan harta yang haram

17. Jangan sakiti ayah dan ibu

18. jangan usir orang yang meminta-minta

19. Jangan sakiti anak yatim

20. Jauhkan diri dari dosa-dosa yang besar

21. Jangan membiasakan diri melakukan dosa-dosa kecil

22. Banyak berkunjung ke rumah Allah (masjid)

23. Lakukan shalat dengan ikhlas dan khusyu

24. Lakukan shalat fardhu di awal waktu, berjamaah dan di masjid

25. Biasakan shalat malam

26. Perbanyak dzikir dan do'a kepada Allah

27. Lakukan puasa wajib dan puasa sunat

28. Sayangi dan santuni fakir miskin

29. Jangan ada rasa takut kecuali hanya kepada Allah

30. Jangan marah berlebih-lebihan

31. Cintailah seseorang dengan tidak berlebih-lebihan

32. Bersatulah karena Allah dan berpisahlah karena Allah

33. Berlatihlah konsentrasi pikiran

34. Penuhi janji apabila telah diikrarkan dan mintalah maaf apabila karena

sesuatu sebab tidak dapat dipenuhi

35. Jangan mempunyai musuh, kecuali dengan iblis/syetan

36. Jangan percaya ramalan manusia

37. Jangan terlampau takut miskin

38. Hormatilah setiap orang

39. Jangan terlampau takut kepada manusia

40. Jangan sombong, takabur dan besar kepala.

41. Bersihkan harta dari hak-hak orang lain

42. Berlakulah adil dalam segala urusan

43. Biasakan istighfar dan taubat kepada Allah

44. Bersihkan rumah dari patung-patung berhala

45. Hiasi rumah dengan bacaan Al-Quran

46. Perbanyak silaturahmi

47. Tutup aurat sesuai dengan petunjuk islam

48. Bicaralah secukupnya

49. Beristri/bersuami kalau sudah siap segala-galanya

50. Hargai waktu, disiplin waktu dan manfaatkan waktu

51. Biasakan hidup bersih, tertib dan teratur

52. Jauhkan diri dari penyakit-penyakit bathin

53. Sediakan waktu untuk santai dengan keluarga

54. Makanlah secukupnya tidak kekurangan dan tidak berlebihan

55. Hormatilah kepada guru dan ulama

56. Sering-sering bershalawat kepada nabi

57. Cintai keluarga Nabi saw.

58. Jangan terlalu banyak hutang

59. Jangan terlampau mudah berjanji

60. Selalu ingat akann saat kematian dan sadar bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan sementara

61. Jauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat seperti mengobrol yang tidak berguna atau merokok dll.

62. Bergaullah dengan orang-orang shaleh

63. Sering bangun di penghujung malam, berdoa dan beristighfar

64. Lakukan ibadah haji dan umrah apabila sudah mampu

65. Maafkan orang lain yang berbuat salah kepada kita

66. Jangan dendang dan jangan ada keinginan membalas kejahatan dengan

kejahatan lagi

67. Jangan membenci seseorang karena paham dan pendirian

68. Jangan benci kepada orang yang membenci kita

69. Berlatih untuk berterus terang dalam menentukan sesuai pilihan

70. Ringankan beban orang lain dan tolonglah mereka yang mendapatkan kesulitan

71. Jangan melukai hati orang lain

72. Jangan membiasakan berkata dusta

73. Berlakulah adil, walaupun kita sendiri akan mendapatkan kerugian

74. Jagalah amanah dengan penuh tanggung jawab

75. Laksanakan segala tugas dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan

76. Hormati orang lain yang lebih tua dari kita

77. Jangan membuka aib orang lain

78. Lihatlah orang yang lebih miskin daripada kita, lihat pula orang yang

lebih berprestasi dari kita

79. Ambilah pelajaran dari pengalaman orang-orang arif dan bijaksana

80. Sediakan waktu untuk merenung apa-apa yang sudah dilakukan

81. Jangan minder karena miskin dan jangan sombong karena kaya

82. Jadilah manusia yang selalu bermanfaat untuk agama, bangsa dan negara

83. Kenali kekurangan diri dan kenali pula kelebihan orang lain

84. jangan membuat orang lain menderita dan sengsara

85. Berkatalah yang baik-baik atau tidak berkata apa-apa

86. Hargai prestasi dan pemberian orang

87. Jangan habiskan waktu untuk sekedar hiburan dan kesenangan

88. Akrablah dengan setiap orang, walaupun yang bersangkutan tidak

menyenangkan

89. Sediakan waktu untuk berolahraga yang sesuai dengan norma-norma agama

dan kondisi diri kita

90. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan fisik atau mental kita menjadi

terganggu

91. Ikutilah nasihat orang-orang yang arif dan bijaksana

92. Pandai-pandailah untuk melupakan kesalahan orang dan pandai-pandailah

untuk melupakan jasa kita

93. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain terganggu, dan jangan

berkata sesuatu yang dapat menyebabkan orang lain terhina

94. Jangan cepat percaya kepada berita jelek yang menyangkut teman kita,

sebelum dicek kebenarannya

95. Jangan menunda-nunda pelaksanaan tugas dan kewajiban

96. Sambutlah uluran tangan setiap orang dengan penuh keakraban dan

keramahan dan tidak berlebihan

97. Jangan memforsir diri untuk melakukan sesuatu yang di luar kemampuan diri

98. Waspadalah akan setiap ujian, cobaan, godaan dan tantangan. Jangan lari

dari kenyataan kehidupan

99. Yakinlah bahwa setiap kebajikan akan melahirkan kebaikan dan setiap

kejahatan akan melahirkan kerusakan

100. Jangan sukses di atas penderitaan orang dan jangan kaya dengan

memiskinkan orang

Biggest of Love

Cinta, di banyak waktu dan kesempatan orang berbeda dalam mengartikannya. Manusia tidak jatuh ke dalam cinta juga tidak keluar darinya. Namun, manusia tumbuh dan besar dalam cinta.
Cinta, laksana air yang terus mengalir menyusuri hamparan bumi, ia ibarat udara yang mengisi ruang-ruang kosong.

Cinta, membawa sesuatu menjadi lebih baik, membawa kita untuk berbuat lebih sempurna.
Cinta juga mengajarkan kepada kita bagaimana arti sebuah pengorbanan dan memahami betapa besar kekuatan yang dihasilkannya. Dengan cinta dunia yang penat ini terasa indah. Ia juga mengajarkan kepada kita bagaimana caranya harus jujur dan berkorban, memberi dan menerima, melepas dan mempertahankan.


Cinta adalah kaki-kaki yang melangkah membangun samudra kebaikan.
Cinta adalah tangan-tangan yang merajut hamparan permadani kasih sayang.
Cinta adalah hati yang selalu berharap dan mewujudkan dunia dan kehidupan yang lebih baik. Dan Islam tidak saja mengagungkan cinta tapi memberikan contoh konkrit dalam kehidupan, lewat kehidupan manusia mulia, Rasulullah tercinta.

Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya.

Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayapnya. Pagi itu Rasulullah dengan suara terbata-bata memberikan petuah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal kepada kalian, Sunnah dan Alquran. Barang siapa mencinta sunnahku, berarti mencintai aku, dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan bersama-sama masuk surga bersama aku.”

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu-persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafasnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua“, desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menyelesaikan menunaikan tugasnya. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadlal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar saat itu, seluruh yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu jika mungkin.

Matahari kian meninggi, tetapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat yang membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang yang berseru mengucapkan salam.

“Bolehkah saya masuk?“ tanyanya.

Tapi Fathimah tidak mengizinkanya masuk.
“Maafkanlah, Ayahku sedang demam”, kata Fathimah yang membalikkan badannya dan menutup pintu.

Kemudian dia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fathimah, “Siapakah itu wahai anakku?“

“Tak tahulah aku ayah, sepertinya baru kali ini aku melihatnya”, tutur Fathimah lembut.

Lalu Rasulullah memandang putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan satu-satu bagian wajahnya seolah hendak dikenang.

“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia, dialah Malaikat Maut”, kata Rasulullah.

Fathimah pun menahan ledakan tangis. Malaikat Maut sama menghampiri, tetapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut menyertai. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit menyambut ruh kekasih Allah.

“Jibril apa hakku nanti dihadapan Allah nanti?“ tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.

“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malikat telah menanti ruhmu. Semua surga telah terbuka lebar menanti kedatanganmu”, kata Jibril.

Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril lagi.
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib ummatku kelak?” Rasulullah balik bertanya.

“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah. Aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku : ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali ummat Muhammad telah berada di dalamnya”, kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat saat Malaikat Maut melakukan tugasnya. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakitnya sakarotul maut ini”, lirih Rasulullah mengaduh.

Fathimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka.

“Jijikah engkau melihatku sehingga kau palingkan wajahmu, Jibril?” tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu.

“Siapakah yang tega melihat kekasih Allah direnggut ajal”, kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi.
“Ya, Allah dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada ummatku”, rintih Rasulullah menahan sakit yang tak terkira.

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinganya.

“Uushikum bi sholati wa maa malakat aiy manukum, peliharalah sholat dan santuni orang-orang lemah diantaramu”, desahnya.

Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fathimah menutupkan tangan di wajahnya dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

“Ummatii....ummatii...ummatii .. (umatku... umatku....umatku) ” gumam Rasulullah
Dan Rasulullah pun wafat...

KINI MAMPUKAH KITA MENCINTAI BELIAU BESERTA AJARANNYA
SEPERTI BELIAU MENCINTAI KITA UMMATNYA?

Tentang Ka'bah

Dikutip dari tulisan : Hasan Husen Assagaf

Sejarah Ka’bah

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula di bangun untuk tempat beribadat manusia ialah Baitullah yang di Makkah yang di-berkahi” al- Imran, ayat 96.

Ka’bah adalah bangunan suci Muslimin yang terletak di kota Mekkah di dalam Masjidil Haram. ia merupakan bangunan yang dijadikan patokan arah kiblat atau arah sholat bagi umat Islam di seluruh dunia. Selain itu, merupakan bangunan yang wajib dikunjungi atau diziarahi pada saat musim haji dan umrah.

Ka’bah berbentuk bangunan kubus yang berukuran 12 x 10 x 15 meter (Lihat foto berangka Ka’bah). Ka’bah disebut juga dengan nama Baitallah atau Baitul Atiq (rumah tua) yang dibangun dan dipugar pada masa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail setelah Nabi Ismail berada di Mekkah atas perintah Allah. Kalau kita membaca Al-Qur’an surah Ibrahim ayat 37 yang berbunyi “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”, kalau kita membaca ayat di atas, kita bisa mengetahui bawah Ka’bah telah ada sewaktu Nabi Ibrahim as menempatkan istrinya Hajar dan bayi Ismail di lokasi tersebut. Jadi Ka’bah telah ada sebelum Nabi Ibrahim menginjakan kakinya di Makkah.

Pada masa Nabi saw berusia 30 tahun, pada saat itu beliau belum diangkat menjadi rasul, bangunan ini direnovasi kembali akibat bajir yang melanda kota Mekkah pada saat itu. Sempat terjadi perselisihan antar kepala suku atau kabilah ketika hendak meletakkan kembali Hajar Aswad namun berkat hikmah Rasulallah perselisihan itu berhasil diselesaikan tanpa kekerasan, tanpa pertumpahan darah dan tanpa ada pihak yang dirugikan.

Pada zaman Jahiliyyah sebelum diangkatnya Rasulallah saw menjadi Nabi sampai kepindahannya ke kota Madinah, ka’bah penuh dikelilingi dengan patung patung yang merupakan Tuhan bangsa Arab padahal Nabi Ibrahim as yang merupakan nenek moyang bangsa Arab mengajarkan tidak boleh mempersekutukan Allah, tidak boleh menyembah Tuhan selain Allah yang Tunggal, tidak ada yang menyerupaiNya dan tidak beranak dan diperanakkan. Setelah pembebasan kota Makkah, Ka’bah akhirnya dibersihkan dari patung patung tanpa kekerasan dan tanpa pertumpahan darah.

Selanjutnya bangunan ini diurus dan dipelihara oleh Bani Sya’ibah sebagai pemegang kunci ka’bah (lihat foto kunci ka’bah) dan administrasi serta pelayanan haji diatur oleh pemerintahan baik pemerintahan khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Muawwiyah bin Abu Sufyan, Dinasti Ummayyah, Dinasti Abbasiyyah, Dinasti Usmaniyah Turki, sampai saat ini yakni pemerintah kerajaan Arab Saudi yang bertindak sebagai pelayan dua kota suci, Mekkah dan Madinah.

Pada zaman Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as pondasi bangunan Ka’bah terdiri atas dua pintu dan letak pintunya terletak diatas tanah, tidak seperti sekarang yang pintunya terletak agak tinggi. Namun ketika Renovasi Ka’bah akibat bencana banjir pada saat Rasulallah saw berusia 30 tahun dan sebelum diangkat menjadi rasul, karena merenovasi ka’bah sebagai bangunan suci harus menggunakan harta yang halal dan bersih, sehingga pada saat itu terjadi kekurangan biaya. Maka bangunan ka’bah dibuat hanya satu pintu serta ada bagian ka’bah yang tidak dimasukkan ke dalam bangunan ka’bah yang dinamakan Hijir Ismail (lihat foto) yang diberi tanda setengah lingkaran pada salah satu sisi ka’bah. Saat itu pintunya dibuat tinggi letaknya agar hanya pemuka suku Quraisy yang bisa memasukinya. Karena suku Quraisy merupakan suku atau kabilah yang sangat dimuliakan oleh bangsa Arab.

Karena agama islam masih baru dan baru saja dikenal, maka Nabi saw mengurungkan niatnya untuk merenovasi kembali ka’bah sehinggas ditulis dalam sebuah hadits perkataan beliau: “Andaikata kaumku bukan baru saja meninggalkan kekafiran, akan Aku turunkan pintu ka’bah dan dibuat dua pintunya serta dimasukkan Hijir Ismail kedalam Ka’bah”, sebagaimana pondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim”. Jadi kalau begitu Hijir Ismail termasuk bagian dari Ka’bah. Makanya dalam bertoaf kita diharuskan mengelilingi Ka’bah dan Hijir Ismail. Hijir Ismail adalah tempat dimana Nabi Ismail as lahir dan diletakan di pangkuan ibunya Hajar.

Ketika masa Abdurahman bin Zubair memerintah daerah Hijaz, bangunan Ka’bah dibuat sebagaimana perkataan Nabi saw atas pondasi Nabi Ibrahim. Namun karena terjadi peperangan dengan Abdul Malik bin Marwan, penguasa daerah Syam, terjadi kebakaran pada Ka’bah akibat tembakan pelontar (Manjaniq) yang dimiliki pasukan Syam. Sehingga Abdul Malik bin Marwan yang kemudian menjadi khalifah, melakukan renovasi kembali Ka’bah berdasarkan bangunan hasil renovasi Rasulallah saw pada usia 30 tahun bukan berdasarkan pondasi yang dibangun Nabi Ibrahim as. Dalam sejarahnya Ka’bah beberapa kali mengalami kerusakan sebagai akibat dari peperangan dan umur bangunan.

Ketika masa pemerintahan khalifah Harun Al Rasyid pada masa kekhalifahan Abbasiyyah, khalifah berencana untuk merenovasi kembali ka’bah sesuai dengan pondasi Nabi Ibrahim dan yang diinginkan Nabi saw. namun segera dicegah oleh salah seorang ulama terkemuka yakni Imam Malik karena dikhawatirkan nanti bangunan suci itu dijadikan masalah khilafiyah oleh penguasa sesudah beliau dan bisa mengakibatkan bongkar pasang Ka’bah. Maka sampai sekarang ini bangunan Ka’bah tetap sesuai dengan renovasi khalifah Abdul Malik bin Marwan sampai sekarang

Hajar Aswad merupakan batu yang dalam agama Islam dipercaya berasal dari surga. Yang pertama kali meletakkan Hajar Aswad adalah Nabi Ibrahim as. Dahulu kala batu ini memiliki sinar yang terang dan dapat menerangi seluruh jazirah Arab. Namun semakin lama sinarnya semangkin meredup dan hingga akhirnya sekarang berwarna hitam. Batu ini memiliki aroma wangi yang unik dan ini merupakan wangi alami yang dimilikinya semenjak awal keberadaannya. Dan pada saat ini batu Hajar Aswad tersebut ditaruh di sisi luar Ka’bah sehingga mudah bagi seseorang untuk menciumnya. Adapun mencium Hajar Aswad merupakan sunah Nabi saw. Karena beliau selalu menciumnya setiap saat bertoaf. Dan sunah ini diikuti para sahabat beliau dan Muslimin.

Pada awal tahun gajah, Abrahan Alasyram penguasa Yaman yang berasal dari Habsyah atau Ethiopia, membangun gereja besar di Sana’a dan bertujuan untuk menghancurkan Ka’bah, memindahkan Hajar Asswad ke Sana’a agar mengikat bangsa Arab untuk melakukan Haji ke Sana’a. Abrahah kemudian mengeluarkan perintah ekspedisi penyerangan terhadap Mekkah, dipimpin olehnya dengan pasukan gajah untuk menghancurkan Ka’bah. Beberapa suku Arab menghadang pasukan Abrahah, tetapi pasukan gajah tidak dapat dikalahkan.

Begitu mereka berada di dekat Mekkah, Abrahah mengirim utusan yang mengatakan kepada penduduk kota Mekkah bahwa mereka tidak akan bertempur dengan mereka jika mereka tidak menghalangi penghancuran Ka’bah. Abdul Muthalib, kepala suku Quraisyi, mengatakan bahwa ia akan mempertahankan hak-hak miliknya, tetapi Allah akan mempertahankan rumah-Nya, Ka’bah, dan ia mundur ke luar kota dengan penduduk Mekkah lainnya. Hari berikutnya, ketika Abrahah bersiap untuk masuk ke dalam kota, terlihat burung-burung yang membawa batu-batu kecil dan melemparkannya ke pasukan Ethiopia; setiap orang yang terkena langsung terbunuh, mereka lari dengan panik dan Abrahah terbunuh dengan mengenaskan. Kejadian ini diabadikan Allah dalam surah Al-Fil

Makam Ibrahim bukan kuburan Nabi Ibrahim sebagaimana banyak orang berpendapat. Makam Ibrahim merupakan bangunan kecil terletak di sebelah timur Ka’bah. Di dalam bangunan tersebut terdapat batu yang diturunkan oleh Allah dari surga bersama-sama dengan Hajar Aswad. Di atas batu itu Nabi Ibrahim berdiri di saat beliau membangun Ka’bah bersama sama puteranya Nabi Ismail. Dari zaman dahulu batu itu sangat terpelihara, dan sekarang ini sudah ditutup dengan kaca berbentuk kubbah kecil. Bekas kedua tapak kaki Nabi Ibrahim yang panjangnya 27 cm, lebarnya 14 cm dan dalamnya 10 cm masih nampak dan jelas dilihat orang.

Multazam terletak antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah berjarak kurang lebih 2 meter. Dinamakan Multazam karena dilazimkan bagi setiap muslim untuk berdoa di tempat itu. Setiap doa dibacakan di tempat itu sangat diijabah atau dikabulkan. Maka disunahkan berdoa sambil menempelkan tangan, dada dan pipi ke Multazam sesuai dengan hadist Nabi saw yang diriwayatkan sunan Ibnu Majah dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash.

Terakhir, saya sangat berharap semoga artikel “Ka’bah” ini bisa membawa mangfaat, menyejukan hati dan menambah semangat kita dalam mengenal dan mencintai rumah Allah.

Walallahua’lam

Hasan Husen Assagaf

Akhlak Rasul SAW

Fragmen kehidupan Rasulullah adalah gambaran penampilan diri yang amat istimewa, baik secara personal maupun sosial. Secara fisik, sikap tingkah laku, tutur kata, pemikiran, emosi, hingga keiklasan hati dan keluhuran jiwa beliau terpancar dalam sebentuk kepribadian yang nyata, menyentuh dan membekas begitu dalam pada sanak keluarga, para sahabat bahkan musuh-musuhnya sekalipun.

Tak heran, tatakala sesudah Nabi saw wafat, ketika seseorang sahabat bertanya, bagaimanakah gambaran akhlak Nabi selama hidupnya? Aisyah ra tak mampu menahan linangan air mata penuh khidmat dan kerinduan yang menggigit sanubarinya saat, “segalanya begitu menakjubkan bagiku.” Dan di waktu lain beliau menjawab,” sesungguhnya akhlak beliau adalah Al-Quran.”

Tak ada pilihan terbaik dalam mencontoh penataan performance diri kecuali dari apa-apa yang Rosulullah ajarkan, sebagaimana terekam dalam berbagai kutipan hadits berikut:

PENAMPILAN JASMANIAH
1.Sesungguhnya Allah itu indah dan senang kepada keindahan. Bila seseorang diantara kamu (bermaksud) menemui kawan-kawannya, hendaklah dia merapikan dirinya. (HR Muslim)

2.Apabila kamu memelihara rambut, hendaklah dimuliakan (disisir, dirapikan agar tidak acak-acakan). (HR Abu Dawud dan Ath Thahawi)

3.Siapa yang mengenakan pakaian, hendaklah ia kenakan yang bersih. (HR Ath-Thahawi)

4.Jangan meremehkan sedikitpun (sehingga enggan melakukan) perbuatan ma’ruf, meskipun hanya menjumpai kawan dengan wajah yang ceria. (HR Muslim)

5.Abu Hurairah ra berkata, sesungguhnya Rasulullah tidak pernah berbicara dengan seseorang melainkan beliau menghadapkan wajahnya pada wajah teman bicaranya dan Rasulullah tak akan berpaling darinya sebelum ia selesai berbicara. (HR Ath-Thabrani)

6.Siapa yang tidak memiliki keramahtamahanberarti ia tak memiliki kebaikan.HR Muslim)

PENATAAN EMOSI, TUTUR KATA DAN TINGKAH LAKU
1.Seorang (baru benar-benar dikatakan) muslim adalah (manakala) muslim lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya. (HR Bukhari-Muslim)

2.Barang siapa membanggakan dirinya sendiri, dan berjalan dengan angkuh, maka dia akan menghadap Allah sementara Allah murka kepadanya. (HR Ahmad)

3.Sesungguhnya allah itu baik menyukai dan menyukai kebaikan, bersih dan menyukai kebersiha, murah hati dan suka pada kemurahan hati, dermawan dan suka kepada kedermawanan…(HR Attirmidzi)

4.Jika salah seorang diantara kalian (kaum muslimin) bertemu dengan saudaranya, maka ucapkanlah, “ assalamu’alaikum warahmatullah.” (HR Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

5.Bertaqwalah kepada Allah dimanapun kamu berada dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya (hal itu) akan menghapusnya. Dan bergaulah dengan manusia dengan akhlak yang luhur. (HR Attirmidzi)

Salam Ikhlas!

Sebab-Sebab Naik Turunnya Kadar Iman

Sebab-sebab dari luar diri kita (External) :

1. Syaitan
Syaitan adalah musuh manusia. Tujuan syaitan adalah untuk merusak keimanan orang. Siapa saja yang tidak membentengi dirinya dengan selalu mengingat Allah maka ia menjadi sarang syaitan, menjerumuskannya dalam kesesatan, ketidak patuhan terhadap Allah, membujuknya melakukan dosa.

2. Bujukan dan rayuan dunia
Allah SWT berfirman : “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (QS, al-Hadiid 57:20).

Tujuan hidup manusia seluruhnya untuk akhirat. Apapun kegiatan dunia yang kita lakukan, seperti mencari nafkah, menonton TV, bertemu teman dan keluarga, seharusnya semua itu ditujukan untuk meraih pahala akhirat. Tidak secuilpun dari kegiatan duniawi boleh dilepaskan dari aturan main yang diperintahkan atau dilarang Allah.

Ibnul Qayyim mengibaratkan hati sebagai suatu wadah bagi tujuan hidup manusia (akhirat dan duniawi) dengan kapasitas (daya tampung) tertentu. Ketika tujuan duniawi tumbuh maka ia akan mengurangi porsi tujuan akhirat. Ketika porsi tujuan akhirat bertambah maka porsi tujuan duniawi berkurang. Dalam situasi dimana tujuan dunia menguasai hati kita maka hanya tersisa sedikit porsi akhirat di hati kita, dan inilah awal dari menurunnya keimanan kita.

3. Pergaulan yang buruk
Rasulullah bersabda : “Seseorang itu terletak pada agama teman dekatnya, sehingga masing-masing kamu sebaiknya melihat kepada siapa dia mengambil teman dekatnya” (HR Tirmidzi, Abu Dawud, al-Hakim, al-Baghawi).

Seorang teman yang sholeh selalu memperhatikan perintah dan larangan Allah, karenanya ia selalu mengajak siapa saja orang disekitarnya untuk menuju kepada kebaikan dan mengingatkan mereka bila mendekati kemungkaran. Teman dan sahabat yang sholeh sangat penting kita miliki di zaman kini dimana pergaulan manusia sudah sangat bebas dan tidak lagi memperhatikan nilai-nilai agama Islam.

Sebab-sebab dari dalam diri kita sendiri (Internal) :

1. Kebodohan
Kebodohan merupakan pangkal dari berbagai perbuatan buruk.

2. Ketidakpedulian, keengganan dan melupakan
Ketidakpedulian menyebabkan pikiran seseorang diisi dengan hal-hal duniawi yang hanya ia sukai (yang ia pedulikan), sedangkan yang bukan ia sukai tidak diberi tempat dipikirannya.

Ini menyebabkan ia tidak ingat (dzikir) pada Allah, sifatnya tidak tulus, tidak punya rasa takut dan malu (kepada Allah), tidak merasa berdosa (tidak perlu tobat), dan bisa jadi ia menjadi sombong karena tidak merasakan pentingnya berbuat rendah hati dan sederhana.

Kengganan seseorang untuk melakukan suatu kebaikan padahal ia tahu hal itu telah diperintahkan Allah, maka ia termasuk orang yang men-zhalimi (melalaikan) dirinya sendiri. Allah akan mengunci hatinya dari jalan yang lurus (al-Kahfi 18:5), dan ia akan menjadi teman syeitan (Thaaha 20:124).

3. Menyepelekan dan melakukan perbuatan dosa
Awal dari perbuatan dosa adalah sikap menyepelekan (tidak patuh terhadap) perintah dan larangan Allah dan perbuatan dosa umumnya dilakukan secara bertahap. Basmilah dosa-dosa kecil selagi belum tumbuh menjadi dosa besar.

4. Jiwa yang selalu memerintahkan berbuat jahat
Ibnul Qayyim Al Jauziyyah mengatakan, Allah menggabungkan dua jiwa, yakni jiwa jahat dan jiwa yang tenang sekaligus dalam diri manusia, dan mereka saling bermusuhan dalam diri seorang manusia. Disaat salah satu melemah, maka yang lain menguat. Perang antar keduanya berlangsung terus hingga si empunya jiwa meninggal dunia.

Adalah sungguh merugi orang-orang yang jiwa jahatnya menguasai tubuhnya. Seperti sabda Rasulullah, “..barang siapa yang diberi petunjuk Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkannya maka tidak ada seorangpun yang dapat memberinya petunjuk”. Sifat lalai, tidak mau belajar agama, sombong dan tidak peduli merupakan beberapa cara untuk membiarkan jiwa jahat dalam tubuh kita berkuasa.

Sedangkan sifat rendah hati, mau belajar, mau melakukan instropeksi (muhasabah) merupakan cara untuk memperkuat jiwa kebaikan (jiwa tenang) yang ada dalam tubuh kita.

Menaikkan kadar iman bukanlah suatu pekerjaan mudah, karena begitu banyak usaha (menuntut ilmu, amalan-amalan) yang harus kita lakukan disamping godaan (syaitan, duniawi) yang akan kita hadapi.

Paling tidak kita termasuk orang-orang yang lebih beruntung dibanding orang lain yang belum sempat mengetahui “sebab-sebab naik-turunnya iman” dalam tulisan ini.

Mari kita ingatkan teman-teman kita dengan menyebarkan tulisan ini.

CARA MENAIKKAN KADAR IMAN :
1. Pelajarilah berbagai ilmu agama Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadits

a. Perbanyaklah membaca Al-Qur’an dan renungkan maknanya...
”Dan Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang lalim selain kerugian.” (QS, al-Israa’ 17:82)

b. Pelajarilah ilmu mengenai Asma’ul Husna, Sifat-sifat Yang Maha Agung...
Bila seseorang memahami sifat Allah yang Maha Santun, Maha Halus dan Maha Penyabar, maka iapun merasa malu ketika ia marah, dan hidupnya merasa tenang karena tahu bahwa ia dijaga oleh Tuhannya secara lembut dan sabar.

c. Pelajari dengan cermat sejarah (Siroh) kehidupan Rasulullah SAW...
Jelaslah bahwa mencintai Rasulullah adalah salah satu jalan menuju surga, dan membaca riwayat hidupnya (siroh) adalah cara terpenting untuk lebih mudah memahami dan mencintai Rasulullah SAW.

2. Berusaha keras melakukan amal perbuatan yang baik secara ikhlas

a. Amalan Hati...
Dilakukan melalui pembersihan hati kita dari sifat-sifat buruk, selalu menjaga kesucian hati. Ciptakan sifat-sifat sabar dan tawakal, penuh takut dan harap akan Allah. Jauhi sifat tamak, kikir, prasangka buruk dan sebagainya.

b. Amalan Lidah...
Perbanyak membaca Al-Qur’an, zikir, bertasbih, tahlil, takbir, istighfar, mengajak orang lain kepada kebaikan, melarang kemungkaran.

c. Amalan Anggota Tubuh...
Dilakukan melalui kepatuhan dalam sholat, pengorbanan untuk bersedekah, perjuangan untuk berhaji hingga disiplin untuk sholat.

Keadaan Ruh Setelah Mati

Seperti apakah sebenarnya kondisi ruh kita nanti? Jawabannya adalah Wallahu a’lam. Namun demikian, Allah SWT memberikan sedikit gambaran dan penjelasan melalui Hadis-hadis Rasulullah SAW.

Berkaitan dengan ruh ini Allah SWT berfirman:
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah wahai Muhammad, “Roh itu termasuk urusan Tuhanku. Kalian tidak diberikan pengetahuan tentang hal itu kecuali sedikit.”
Jelas sekali arti ayat ini, bahwa Allah SWT hanya memberitahukan ilmu sedikit saja tentang hal-hal yang berkaitan dengan ruh ini.

Informasi Rasulullah SAW berkaitan dengan ruh:
1. “Allah menjadikan ruh mereka dalam bentuk seperti burung berwarna kehijauan. Mereka mendatangi sungai-sungai surga, makan dari buah-buahannya, dan tinggal di dalam kindil (lampu) dari emas di bawah naungan ‘Arasyi.” (Hadis Shahih riwayat Ahmad, Abu Daud dan Hakim)

2. “Tidak seorang pun melewati kuburan saudaranya yang mukmin yang dia kenal selama hidup di dunia, lalu orang yang lewat itu mengucapkan salam untuknya, kecuali dia mengetahuinya dan menjawab salamnya itu.” (Hadis Shahih riwayat Ibnu Abdul Bar dari Ibnu Abbas di dalam kitab Al-Istidzkar dan At-Tamhid)

3. Orang yang telah meninggal dunia saling kunjung-mengunjungi antara yang satu dengan yang lainnya. Nabi Saw bersabda:

“Ummu Hani bertanya kepada Rasulullah SAW: “Apakah kita akan saling mengunjungi jika kita telah mati, dan saling melihat satu dengan yang lainnya wahai Rarulullah SAW? Rasulullah SAW menjawab, “Ruh akan menjadi seperti burung yang terbang, bergelantungan di sebuah pohon, sampai jika datang hari kiamat, setiap roh akan masuk ke dalam jasadnya masing-masing.” (HR. Ahmad dan Thabrani dengan sanad baik).

4. Orang yang telah meninggal dunia merasa senang kepada orang yang menziarahinya, dan merasa sedih kepada orang yang tidak menziarahinya. Nabi SAW bersabda:

“Tidak seorangpun yang mengunjungi kuburan saudaranya dan duduk kepadanya (untuk mendoakannya) kecuali dia merasa bahagia dan menemaninya hingga dia berdiri meninggalkan kuburan itu.” (HR. Ibnu Abu Dunya dari Aisyah dalam kitab Al-Qubûr).

5. Orang yang telah meninggal dunia mengetahui keadaan dan perbuatan orang yang masih hidup, bahkan mereka merasakan sedih atas perbuatan dosa orang yang masih hidup dari kalangan keluarganya dan merasa gembira atas amal shaleh mereka. Nabi SAW bersabda:

a. “Sesungguhnya perbuatan kalian diperlihatkan kepada karib-kerabat dan keluarga kalian yang telah meninggal dunia. Jika perbuatan kalian baik, maka mereka mendapatkan kabar gembira, namun jika selain daripada itu, maka mereka berkata: “Ya Allah, janganlah engkau matikan mereka sampai Engkau memberikan hidayah kepada mereka seperti engkau memberikan hidayah kepada kami.” (HR. Ahmad dalam musnadnya).

b. “Seluruh amal perbuatan dilaporkan kepada Allah SWT pada hari Senin dan Kamis, dan diperlihatkan kepada para orangtua pada hari Jum’at. Mereka merasa gembira dengan perbuatan baik orang-orang yang masih hidup, wajah mereka menjadi tambah bersinar terang. Maka bertakwalah kalian kepada Allah dan janganlah kalian menyakiti orang-orang kalian yang telah meninggal dunia.” (HR. Tirmidzi dalam kitab Nawâdirul Ushûl).

6. Orang-orang beriman hidup di dalam surga bersama anak-cucu dan keturuanan mereka yang shaleh.

“Dan orang-orang beriman yang anak-cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan mereka dengan anak-cucu mereka. Kami tidak mengurangi dari pahala amal mereka sedikitpun. Setiap orang terkait denga apa yang telah dia kerjakan.” (At-Thur: 21)

Hadis tentang mayit mengetahui dan menjawab salam orang yang menziarahinya tidak berarti bahwa ruh ada di dalam liang kubur di dalam tanah. Bukan seperti itu, melainkan bahwa ruh punya keterkaitan khusus dengan jasadnya. Di mana jika ada yang mengucapkan salam untuknya, dia akan menjawabnya.

Ruh berada di suatu alam yang bernama alam Barzakh di suatu tempat yang bernama Ar-Rafîqul `A’lâ. Alam ini tidak sama dengan dunia kita, bahkan jauh berbeda. Hanya Allah SWT sajalah yang mengetahui lika-liku dan detail-detailnya.

"Dan di hadapan mereka (ahli kubur) ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan ".( Al-Mu'minun: 100)

Dari dalil-dalil tadi juga bisa di simpulkan, bahwa tempat para arwah berbeda-beda dan bertingkat-tingkat derajatnya sesuai amal shaleh mereka.

KISAH
al-Fadhel bin Muaffaq disaat ayahnya meninggal dunia, sangat sedih sekali dan menyesalkan kematiannya. Setelah dikubur, ia selalu menziarahinya hampir setiap hari. Kemudian setelah itu mulai berkurang dan malas karena kesibukannya.

Pada suatu hari dia teringat kepada ayahnya dan segera menziarahinya. Disaat ia duduk disisi kuburan ayahnya, ia tertidur dan melihat seolah olah ayahnya bangun kembali dari kuburan dengan kafannya. Ia menangis disaat melihatnya.

Ayahnya berkata : “wahai anakku kenapa kamu lalai tidak menziarahiku?

Al-Fadhel berkata : “ Apakah kamu mengetahui kedatanganku? ”

Ayahnya pun menjawab : “ Kamu pernah datang setelah aku dikubur dan aku mendapatkan ketenangan dan sangat gembira dengan kedatanganmu begitupula teman-temanku yang di sekitarku sangat gembira dengan kedatanganmu dan mendapatkan rahmah dengan doa-doamu”.
Mulai saat itu ia tidak pernah lepas lagi untuk menziarahi ayahnya .

Rasulullah saw bersabda : "Aku dulu melarang kamu berziarah kubur. Sekarang, aku anjurkan melakukannya, agar KALIAN INGAT MATI". (HR. Abu Daud)

Lalu apa yg terjadi sekarang, justru orang berziarah karena bukan untuk INGAT MATI tapi TAKUT HIDUP, yaitu dengan cara meminta-minta kepada ahli kubur agar dimudahkan rejeki , jodoh, diselesaikan masalah, dll. apa yang dilakukan ini termasuk musyrik/syirik.

Ingat, berziarah bukan satu-satunya cara bagi kita untuk MENGINGAT MATI, karena banyak cara yang Rasulullah ajarkan kepada kita. Misalnya, kita melakukan sholat, shaum, berbuat baik kepada sesama, berbakti kepada orangtua, komitmen dan amanah dalam pekerjaan dst, sesungguhnya hal-hal tsb merupakan kesadaran diri, bahwa kita INGAT MATI dan itulah yang harus kita lakukan saat masih hidup.

ADAB BERZIARAH
1. Mengucapkan Salam.
“Assalamu’alaikum ahladdiyar minal mukminin wal muslimin wa innaa insyaa Allahu bikum lahikuuna nasalullaha walakumul ‘afiyat” (HR. Ahmad dan Muslim)

2. Berjalan pelan, berpakaian sopan dan tidak gaduh atau berisik apalagi tertawa-tawa.

3. Berdoa untuk keselamatan ahli kubur, bisa juga membaca doa dari bacaan shalat jenazah.

4. Dilarang melangkahi kubur, menginjak kubur, berdiri diatas kubur atau duduk diatas kubur.
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya menginjak bara api atau pedang itu lebih aku sukai daripada menginjak kubur seorang muslim.” (HR. Muslim dan HR. Ibnu Majah)

5. Dilarang berdialog / ngobrol dengan ahli kubur.

Berziarah merupakan suatu hikmah dari Allah dan sunah Rasulullah yang baik, terpuji dan patut dingat maknanya se dalam-dalamnya agar bisa mengingatkan diri kita bahwa hidup ini akan berakhir dengan kematian dan kematian itu bukanlah akhir dari perjalanan hidup seseorang melainkan awal dari segalanya. Wallahua’lam.

Salam Ikhlas!

Indah dan Dahsyat nya Dzikir

Zikir-menyebut-nyebut nama Allah dan merenungkan kuasa, sifat, dan perbuatan serta nikmat-nikmat-Nya menghasilkan ketenangan batin. Allah menegaskan dalam ayat berikut ini.

"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS Ar-Ra'd [13] : 28).

Perasaan tidak tenang dan tidak nyaman memang sering mengganggu kita, baik bersifat internal, seperti rasa takut akan sesuatu dan rasa putus asa akibat tidak mendapatkan sesuatu, maupun eksternal, seperti kalah bersaing dengan orang lain dalam mencapai sesuatu dan tidak adanya jaminan akan keselamatan hidup atau masa depan. Tidak heran bila perasaan tidak tenang itu dapat mengakibatkan seseorang menjadi stres. Nah, salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk menghilangkan perasaan tidak tenang dan tidak nyaman itu adalah dengan zikir mengingat Allah.

Mengapa dengan zikir, hati menjadi tenang dan tenteram?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita terlebih dahulu mengetahui masalah “hati” atau “qalbu” dalam bahasa Arab. Kata “qalbu” memiliki dua arti.
Pertama, qalbu adalah sepotong daging yang lembek dan lembut yang berada di sebelah rongga kiri dada, yaitu sepotong daging yang khusus. Di bagian dalamnya terdapat rongga-rongga tempat darah mengalir. Di tempat ini pulalah ruh bersemayam.

Qalbu dalam pengertian ini bisa juga disebut jantung, karena jantung merupakan bagian dari organ tubuh yang terletak di dalam rongga dada. Berkaitan dengan qalbu atau jantung, ada sebuah penelitian ilmiah yang sangat menarik. Hasil penelitian ilmiah tersebut adalah 25 Amin Syukur

Yang menjadi pembicaraan kita dalam fasal ini adalah qalbu atau hati dalam pengertian kedua yang bersifat rabbaniyah dan ruhaniyah. Qalbu ini dapat merasakan gelisah, sengsara, resah, susah, dan sedih. Ia juga bisa tertutup, mati, berkarat, melemah, lalai, dan lupa. Sebaliknya, ia juga bisa merasa nyaman, tenteram, senang, gembira, dan bahagia. Ia juga bisa terbuka, hidup, bersih, menguat, ingat, dan terjaga.

Salah satu faktor penyebab yang membuat qalbu (hati) menjadi tidak tenteram dan tidak tenang adalah ghaflah, alias lalai dan lupa kepada Allah. Orang yang lalai
dan lupa kepada Allah akan membuatnya lupa kepada dirinya sendiri. Orang yang lalai dari zikir juga tidak akan pernah merasa hidupnya tenang dan tenteram. Ia
akan selalu dalam keadaan gelisah, resah, dan susah.

Orang yang lupa kepada Allah akan tenggelam ke dalam telaga kelupaan, kebimbangan, dan keterasingan. Ia akan jauh dari lingkaran cahaya dan akan masuk ke dalam lingkaran kegelapan. Allah menegaskan, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri." (QS Al-Hasyr [59]: 19).

Sementara itu, orang yang ingat -zikir- kepada Allah, hatinya akan tenteram dan tenang. Ia akan ingat kepada dirinya sendiri dan Allah pun akan membuatnya ingat kepada dirinya sendiri. Hidupnya akan tenang dan tenteram. Ia akan selalu berada dalam lingkaran cahaya. Sebab, zikir dapat menghilangkan rasa sedih dan rasa gelisah dari hati. Zikir dapat mendatangkan kebahagiaan hati. Ia dapat menyinari hati dan menguatkannya. Ia dapat menghidupkan hati dan membersihkannya dari kotoran dan karat. Orang yang berzikir akan senantiasa dekat dengan Allah. Dan, Allah pun akan senantiasa bersamanya. Zikir merupakan obat hati dan lalai adalah penyakitnya. Hati yang sakit hanya dapat diobati dan disembuhkan dengan zikir kepada Allah. Karenanya, Makhul berkata, "Zikir atau ingat kepada Allah adalah
obat. Dan, ingat kepada manusia adalah penyakit."

Hati dapat berkarat karena dua perkara, yaitu ghaflah (lalai) dan dosa. Hal yang dapat membersihkannya juga dua perkara, yaitu zikir dan istighfar. Jika seseorang lalai dari mengingat Allah pada sebagian besar waktunya, karat di hatinya akan menumpuk sesuai dengan tingkat kelalaiannya. Jika hati berkarat, bentuk segala sesuatu di dalamnya tidak tergambar sesuai dengan faktanya. Ia akan melihat kebatilan dalam bentuk kebenaran dan melihat kebenaran dalam bentuk kebatilan. Sebab, ketika karat telah menumpuk di hati, maka ia akan menjadi
gelap dan di dalamnya berbagai bentuk kebenaran tidak akan tampak sebagaimana adanya. Apabila karat itu telah bertumpuk-tumpuk, hati akan menjadi hitam pekat dan pandangannya menjadi rusak sehingga ia tidak dapat mengingkari kebatilan. Inilah siksaan hati yang paling berat. Sumber dari siksaan itu adalah sikap lalai dan mengikuti hawa nafsu. Kedua hal inilah yang menghilangkan cahaya hati dan membutakannya."

Tidak dapat dibantah lagi bahwa zikir benar-benar dapat menenteramkan hati. Penyebabnya adalah ketika kita ingat kepada Allah, maka pada saat itu terselip sikap menyandarkan diri kepada Allah yang disebut tawakkal atau tawwakkul. Kita mengenal bahwa salah satu sifat dari Allah adalah al-Wakil (tempat bersandar).

Hasbunallah wa ni'mal wakil, artinya cukuplah Allah bagi kita dan Dia adalah sebaik-baik tempat bersandar.

Si LISAN

Sepotong daging yang bisa meletuskan peperangan, mengalirkan darah, menghancurkan rumah-tangga dan silaturahim, merusak harga diri dan kehormatan seseorang...namanya lidah !

GHIBAH
Ghibah atau Gosip, adalah obrolan tentang orang lain, cerita negatif tentang seseorang atau menggunjing seseorang, berprasangka buruk dan dan mencari-cari kesalahan orang lain (lihat Al-hujurat 12).

Rasulullah Saw bersabda,”Jika apa yang kamu katakan terdapat pada saudaramu, maka engkau telah menggunjingnya (melakukan Ghibah) dan jika itu tidak terdapat padanya maka engkau telah berdusta padanya”. Dalam Al-Hujurat 12 Allah Swt mengatakan bahwa itu sama dengan memakan daging saudaranya yang sudah mati.

FITNAH
Fitnah atau Gosip yang tidak benar, adalah obrolan tentang orang lain, cerita negatif seseorang tapi tidak benar, bohong dan dusta. ini adalah perbuatan munkar yang sangat keji.

Bercerita kepada seseorang tentang orang lain agar seseorang tersebut menjadi buruk dan orang lain menjadi benci kepada orang tersebut.

“Neraka Wail bagi pengumpat atau penyebar fitnah dan pencela”. (Al-Humazah 1)

“Siapa yang bekata tentang seseorang mukmin dengan sesuatu yang tidak diperbuatnya, maka Allah akan mengurungnya didalam lumpur keringat penghuni neraka”. (HR. Ahmad)

NAMIMAH
Mengadukan ucapan seseorang kepada seorang lainnya lagi dengan tujuan merusak, sehingga menyebabkan terputusnya ikatan silaturahim serta menyulut api kebencian dan permusuhan antar sesama manusia. Ini adalah perbuatan yang sangat berbahaya, menyakitkan dan membawa dosa besar

“Tidak akan masuk surga Al-Qattat (orang yang suka adu domba)”. (HR. Bukhari)

“Sesungguhnya penghuni kubur ini sedang di adzab, yang kesana kemari menyebarkan Namimah”. (HR. Bukhari)

SOLUSI
Bagaimana kalau ada suatu berita yang sampai kepada kita?
Diam dengan tidak merespon berita tersebut, jangan cepat-cepat bertindak apalagi sampai menyebarkannya, sikap ini yang diharapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Allah berfirman, “Wahai orang-orang beriman, jika datang kepadamu seorang yang fasiq membawa berita, hendaknya kalian mencari kebenaran cerita tersebut (tabayyun) , (agar tidak sampai terjadi) kamu menimpakan musibah kpeda kaum karena ketidaktahuanmu itu, kemudian kamu menyesal atas hal tersebut”. (Al-Hujurat 6)

Rasulullah bersabda, "Cukuplah seseorang dianggap pendusta, karena menceritakan perkataan yang ia dengar." (HR. Muslim)

Syaitan menjadikan mudah sekali bagi kita untuk membuka mulut dan melancarkan kata-kata yang berupa gosip dan ghibah, bahkan namimah.

Bagaimana cara membentengi diri dari ajakan syaitan untuk bergunjing dan mengadu-domba?

1. Tidak membenarkan perkataannya, karena pelaku namimah adalah orang fasiq (senang melakukan maksiat).

2. Mencegahnya, menasehatinya dan mencela perbuatan tersebut.

3. Membenci pelaku namimah karena Allah, karena ia adalah orang yang dibenci Allah. Wajib bagi kita untuk membenci orang yang dibenci Allah.

4. Tidak berprasangka buruk kepada seseorang yang dikomentari negatif oleh pelaku namimah.

5. Tidak memata-matai atau mencari-cari aib seseorang karena berita yang didengar dari pelaku namimah tentang orang tersebut.

6. Tidak membiarkan dirinya ikut melakukan namimah tersebut, dengan menceritakan kepada orang lain atas apa yang didengarnya dari pelaku namimah.

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah”. (Al-Qolam 10-11)

Semoga kita dijauhkan dari sifat namimah dan dari pelaku namimah, aamiin

Salam Ikhlas!

Matematika dalam Al-Qur'an

Tariq Al Swaidan menemukan beberapa ayat di dalam Al Qur'an menyebutkan sesuatu yang sepadan dengan sesuatu yang lain, misal laki-laki sama dengan perempuan. Walaupun masuk akal secara gramatikal, faktanya kata LAKI-LAKI disebutkan 24 KALI dan kata PEREMPUAN/WANITA juga disebutkan 24 KALI, sehingga persamaannya tidak hanya bentuk gramatikal tapi juga bentuk matematikalnya (24=24).

Kata DUNIA 115 Kali = kata AKHIRAT 115 Kali
Malaikat 88 = Setan 88
Hidup 145 = Mati 145
Laki-laki 24 = Perempuan/wanita 24
Manfaat 50 = Korup 50
Musibah 75 = Bersyukur 75 …..Subhanallah !

Dan yang juga mengagumkan adalah berapa kali kata-kata berikut disebutkan:
Shalat ada 5,
Bulan ada 12,
Hari ada 365 …...Allahu Akbar !

Manusia/umat 50 = Penyampai (rasul) 50
Iblis 11 = Menghindari (perbuatan) iblis 11
Shodaqah 73 = Kepuasan/pahala 73
Orang yg tersesat 17 = Orang mati 17
Muslimin 41 = Jihad 41
Emas 8 = Kemudahan hidup 8
Tipu muslihat /Sihir 60 = Fitnah 60
Zakat 32 = Barokah 32
Akal 49 = Nur/cahaya 49
Bicara di depan publik 18 = Mempublikasikan 18
Ketekunan 114 = Sabar 114
Muhammad 4 = Syariah 4
…..dan masih banyak lagi.

Laut 32 dan Daratan 13
Kita hitung secara matematika:
Laut + Daratan = 32 + 13= 45
Laut = 32 / 45 X 100 = 71.11%
Daratan = 13 / 45 X 100 = 28.89%
Ilmu pengetahuan modern telah membuktikan bahwa permukaan bumi terdiri dari,
71.11% air dan 28.89% daratan ……Ruaarr biazzaa !

Apakah hal ini sebuah kebetulan?
Pertanyaannya adalah Siapa yang mengajari Nabi Muhammad SAW tentang semua ini?
Tentu saja ALLAH SWT yang mengajarkan hal ini pada beliau.

Subhanallah, Maha Suci Engkau dengan segala Firman-Mu

(Dr. Tariq Al Swaidan & PITI)

Sabtu, 16 Januari 2010

Situs Penghinaan Kepada Islam



Dari Elna Lianita (elvolaris.blogspot.com) . Lagi enak-enaknya blogwalking sambil lihat-lihat artikel sahabat blog, pas buka blog salah satu sahabat ada artikel yang menarik untuk kita simak lebih dalam lagi.
artikelnya berjudul 'blog penghina ISLAM'..sahabat blog saya ini mereview salah satu situs yang secara terang-terangan menghujat agama Islam, Nabi Muhammad SAW, Al-quran bahkan Allah SWT pun tak luput dari penghinaaan tersebut. Yang lebih parah lagi adalah situs tersebut mengajak umat muslim untuk MURTAD !!! Astagfirullah..Hal ini membuat saya teringat bahwa beberapa waktu yang lalu sekitar 1-2 tahun ke belakang ada sebuah situs yang heboh hingga masuk ke media elektronik dan media cetak dan ditanggapi oleh pemerintah dengan mem-blokir situs tersebut. Akan tetapi setelah saya buka kembali situs tersebut telah aktif kembali. Entah apa yang terjadi saat ini, atau niat apa yang sedang direncanakan oleh orang-orang yang ingin memecah belah dan menghancurkan umat islam dan islam itu sendiri. Saya secara pribadi MENGUTUK orang-orang yang membuat blog tersebut, yang menghina dan mengajak murtad umat islam, saya adalah UMAT ISLAM, yang akan membantu berjuang melawan semua yang ingin menghancurkan islam, keluarga saya adalah umat islam, kerabat dan juga saudara, dan saya juga mempunyai saudara dan teman yang berbeda keyakinan/agama akan tetapi saya tidak perlu menghina umat lain atau agama lain. Semua agama benar di mata umatnya, tidak perlu saling menghujat. Apakah hidup anda jauh lebih baik dari umat muslim? Apakah ajaran anda mengajarkan untuk menghujat agama lain? Tunjukkan diri anda jika memang anda orang yang berani menghujat, jangan jadi PENGECUT yang hanya berani menghujat di blog tapi tidak berani menampakkan diri. Dan orang-orang seperti anda tidak akan pernah bahagia dalam kehidupan anda karena selalu hidup dalam kebencian dan menghujat. Semoga Allah melaknat anda,keluarga dan seluruh orang-orang yang menghina islam.

Untuk seluruh umat islam yang membaca artikel ini, saya mengajak sobat muslim sekalian (yang menggunakan mesin wordprees) untuk ikut MEMUSNAHKAN situs ini dengan cara :

1. Silahkan masuk ke http://wordpress.com/report-spam/
2. Masukkan email anda pada kolom your email
3. Masukkan http://beritamuslim.wordpress.com pada kolom blog url
4. Masukkan alasan anda pada kolom "Why". (Tulis alasan dalam bahasa Inggris. Atau tulis "Content is obscene and defamation cause religious and racial hatred".

Saya harap dengan usaha yang telah kita lakukan ini, situs penghina ISLAM ini akan segera banned. Amin. Dan saya ucapkan terima kasih kepada sahabat blog yang sudah memberikan kabar ini. Salam blogger.

Senin, 11 Januari 2010

Imam Syafi'i Menuntut Ilmu di Madinah

Imam Syafi'i ke kota Madinah
Oleh Syed Hasan Alatas

Dalam perjalan tersebut haripun mulai senja Syafi'i singgah di Zi Tua untuk bermalam, keadaan sekelilingnya kering dan panas dan tidak ada tumbuh-tumbuhan. Ditempat itu ramai didapati orang yang sedang berkhemah. Syafi'i mulai merasa lapar, sedangkan uang tak ada. Meskipun demikian ia yakin Allah s.w.t. akan memberikan pertolongannya kepada orang yang ingin menambah Ilmu Pengetahuannya. Ditempat itu Syafi'i berkenalan seorang yang separuh baya yang baik dan ramah. Syafi'i diajak makan malam bersamanya. Syafi'i memanggil orang itu dengan "paman".

Syafi'i mengucapkan syukur kepada Allah s.w.t.atas anugerahnya, sehingga ia tidak sampai kelaparan. Ketika itu Syafi'i bertanya kepada orang itu: "Siapakah orang yang paling alim di Madinah, ketika itu. Lalu orang itu menceritakan kepada Syafi'i, bahwa orang yang paling Alim di kota Madinah ketika itu ialah Imam Malik bin
Anas. Syafi'i bermohon kepada sahabat barunya itu, semoga ia sudi membawanya bertemu dengan Imam Malik bin Anas.

Memasuki hari kedelapan kami telah tiba di pinggir kota Madinah, dari jauh kelihatan sayup Masjid Nabi, dimana Rasulallah s.a.w.dimakamkan didekatnya. Alangkah gembiranya hati Syafi'i setibanya di masjid Nabi, dan beliau menunaikan solat sepuasnya dengan khusyuk dan perasaan terharu dengan tidak disadarinya air mata syafi'i membasahi pipinya, karena betapa mengagumi kebesaran dan keagungan Nabi s.a.w. yang telah berjuang menegakkan Islam dan ummatnya. Rasulallah s.a.w. telah berjaya merobah suatu masyarakat yang berpecah belah menjadi satu masyarakat yang bersatu padu,yang terdiri dari berbilang kaum dan agama, dengan terpatrinya piagam Madinah yang terkenal hingga bila-bila masa. Syafi'i setelah menunaikan solat, beliau pergi menziarahi makam Rasulallah s.a.w. Setelah itu, beliau melihat ramai orang sedang menghadiri majlis Ilmu mengelilingi Ulama Agung Imam Malik bin Anas. Syafi'i turut hadir untuk ikut sama mendengar dengan tekun segala mutiara Hadish Nabi s.a.w., yang disampaikan oleh Imam Malik.

Kelebihan Imam Syafi'i ialah daya hapalan yang dianugerahkan Allah kepadanya, sehingga semua pelajaran yang disampaikan oleh Imam Malik telah dapat dihapalnya. Selesainya pengajian murid-murid Imam Malik menyalami Tok Guru mereka sambil beredar dan pulang kerumah masing-masing.Syafi'i masih berada
ditempatnya. Imam Malik merasa heran, karena dilihatnya anak muda itu tidak meninggalkan tempat pengajian. Lalu beliau memanggil syafi'i dan bertanyakan segala sesuatu berkenaan dirinya, dan apa yang telah didengarnya. Imam Malik meminta supaya Syafi'i mengatakan kembali sebuah hadis yang telah dipelajarinya.

Syafi'i dengan lancarnya bukan saja mendengarkan satu hadis tetapi semua hadis yang didengarnya ketika Imam Malik menyampaikan pelajarannya. Sungguh mengagumkan daya ingatan pemuda Syafii, sehingga Imam Malik tertarik kepadanya.

Betapa gembiranya Imam Malik karena mendapat seorang murid yang cerdas dan bijak seperti Syaf'i. Syaf'i semenjak kecil bukan saja telah hapal seluruh isi al-Quran dan ribuan hadis Nabi s.a.w. malah beliau juga telah hapal seluruh isi kitab Hadis Muwatta' karangan Imam Malik bin Anas, sebelumnya Syaafi'i bertemu dengan Imam Malik. Imam Syafi'i membagi malam kepada tiga bahagian yaitu:

• Sepertiga untuk Ilmu Pengetahuan
• Sepertiga untuk sholat
• Sepertiga untuk tidur

Rabi' menerangkan bahwa Imam Syafi'i setiap hari menamatkan al-Quran sekali, tetapi dalam bulan Ramadhan seluruhnya enam puluh kali, dan semuanya dibaca ketika menunaikan ibadah Sholat. Imam Syafi'i sendiri menerangkan bahwa beliau belum pernah bersumpah seumur hidupnya, baik ketika membenarkan sesuatu ataupun mendustakan sesuatu. Pernah disatu ketika ada orang bertanyakan sesuatu masaalah kepada beliau. Ketika itu Imam Syafi'i mendiamkan diri sejenak tidak langsung menjawabnya. Ketika beliau disoal mengapa berbuat demikian, maka Imam Syafi'i menjelaskan:

"Aku menunggu terlebih dahulu, sehingga aku mengetahui, mana yang lebih
baik aku diam ataupun menjawab pertanyaanmu."

Ini menunjukkan bahwa Imam Syafi'i adalah orang yang sangat teliti dalam memberikan sesuatu fatwa, kepada seseorang yang bertanyakan sesuatu masaalah semasa.
Imam Syafi'i pernah mengatakan: "Pada suatu hari aku tidak punya uang sesenpun, sedangkan aku ingin benar menuntut Ilmu. Lalu aku pergi bekerja disebuah Dewan untuk mendapat sedikit belanja". Ini menunjukkan bahwa Imam Syafi'i tidak berdiam diri ketika menemui kesulitan dalam keuangan, terutama ketika menuntut Ilmu, beliau bersedia bekerja apa saja yang halal, asalkan saja cita-citanya tercapai.

Imam Ghazali pernah menceritakan bahwa Imam Syafi'i juga adalah seorang Tokoh penting dalam kehidupan Sufi. Ia seorang yang sangat Taqwa tidak ingin bermegah-megahan dalam hal apapun juga. Berkenaan Ilmu Sufi, Imam Syafi'i berkata: "Saya ingin manusia itu mempelajari Ilmu ini, tetapi janganlah menyebut-nyebut namaku, dengan sepatah kata juapun".
Diantara kata-kata yang bernilai sufi daripada Imam Syafi'i ialah:

• Orang yang zalim kepada dirinya, ialah orang yang merendahkan dirinya kepada orang yang tidak memuliakannya dan orang yang menyukai sesuatu benda yang tidak memberi manfaat kepadanya, begitu juga orang yang menerima sesuatu pujian dari seseorang yang lain yang tidak mengenalnya, dengan sesungguh-sungguhnya.
• Orang yang tidak diutamakan karena Taqwanya, tidaklah termasuk Orang Yang Utama.
• Siasat manusia lebih kejam daripada siasat binatang.
• Jikalau kuketahui bahwa ia dengan itu dapat mengurangi kehormatanku, meskipun aku haus, aku tidak akan meminumnya.
• Diantara tanda-tanda benar dalam Ukhuwah ialah menerima keritikan teman, menutupi aib teman, dan mengampuni kesalahannya."

Siti Fatimah Az Zahra dan Keluarga

Siti Fatimah dan Keluarganya

Oleh Ustaz Syed Hasan Alatas

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM,

Siti Fatimah Azzahra as, adalah putri bungsu kesayangan Rasulallah s.a.w. Siti Fatimah Azzahra, adalah putri teladan. Ketaatan dan kesetiaannya kepada ayah dan bundanya adalah menjadi contoh teladan yang baik sekali bagi seluruh wanita. Siti Fatimah Azzahra telah mengorbankan seluruh hayatnya untuk kepentingan Islam dan Ummatnya. Siti Fatimah dengan setianya mendampingi suaminya Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dalam keadaan suka dan duka. Belau telah berjaya mendidik kedua anakandanya Hasan dan Husain dengan akhlak dan budiperkerti yang mulia. Siti Fatimah senantiasa berusaha membantu fakir miskin dan mereka yang sangat mengharapkan pertolongan.

Siti Fatimah Azzahra dibesarkan dalam asuhan dan didikan langsung ayahandanya yang tercinta Rasulallah s.a.w. Kasih sayang dan kecintaan Nabi s.a.w. kepada Siti Fatimah Azzahra, terutama disebabkan tingkah laku dan tabiatnya banyak mirip dengan ayahandanya.

Hidup zuhud dan tekun beribadah adalah sifat yang dimiliki Fatimah Azzahra. Beliau menghayati hubungan yang ikhlas dengan Allah s.w.t. Sifat mulia yang dimilikinya sebagaimana telah diceritakan oleh Asma binti Umais, "Pada suatu hari aku berada dirumah Siti Fatimah Azzahra.Tiba-tiba ketika itu Rasulallah s.a.w. datang ke rumah Siti Fatimah. Ketika itu Sitti Fatimah memakai seuntai kalung emas pemberian suaminya Imam Ali bin Abi Thalib k.w. Ketika Rasulullah melihat kalung itu, lalu Nabi s.a.w.bersabda, "Hai anakku apakah engkau bangga disebut orang sebagai putri Muhammad, sedangkan engkau sendiri memakai jaababirah ? "(perhiasan yang biasa dipakai oleh putri bangsawan). Ketika itu juga Siti Fatimah melepaskan kalungnya itu, dan menjualnya. Hasil dari harga kalung tersebut Siti Fatimah membeli seorang hamba dan hamba tersebut dimerdekakan. Ketika Rasulallah s.a.w mendengar berita tersebut Nabi s.a.w. amat bergembira dan mendo'akan Siti Fatimah sekeluarga.

Dalam peristiwa lainnya yang diriwayatkan oleh Thuban, ia berkata, "Ketika Rasulallah s.a.w. pulang dari suatu peperangan, seperti biasanya Nabi s.a.w. singgah ke rumah anakandanya Siti Fatimah, ketika itu Nabi s.a.w. melihat kedua-dua cucundanya memakai gelang perak. Nabi s.a.w. tidak jadi singgah, dan Nabi terus pulang kerumahnya.

Mengetahui hal tersebut Siti Fatimah menyadari bahawa Nabi tidak jadi singgah, disebabkan perhiasan yang dipakai oleh kedua-dua cucunya itu. Lalu Siti Fatimah Azzahra dengan tidak ragu-ragu lagi membuka perhiasan gelang yang dipakai oleh kedua anaknya itu dan dihancurkan sehingga berkeping-keping. Hal tersebut menyebabkan saidina Hasan dan Husain menangis, meskipun dipungut kembali kepingan gelang perak itu dan diserahkan kepada Saidina Hasan dan saidina Husain, yang ketika itu belum tahu apa-apa.

Kedua mereka sambil menangis mendatangi Datuknya Nabi s.a.w. Rasulullah s.a.w. mengambil kedua kepingan gelang itu dan menyuruh Thuban pergi membelikan gantinya, untuk Siti Fatimah sebuah kalung dari ashab (sejenis benang yang dipilin) dan dua gelang yang terbuat dari gading untuk cucundandanya.

Sambil Nabi s.a.w.bersabda:

" Mereka itu Ahlul Baiytku, aku tidak ingin mereka kehilangan kebajikan karena masaalah duniawi ini...!"
(Riwayat Thuban diungkapkan oleh At-Thabbarry dalam kitabnya "Siratul Mustafa".)

FATIMAH AZZAHRA, putri kesayangan Rasulallah s.a.w. dalam kehidupan hariannya mengikuti jejak ayahandanya, terutama dalam kezuhudan dan ketekunan beribadahnya, sehingga beliau digelar dengan "Al-Batul"(orang yang sangat tekun beribadah).

Kesibukan hariannya dalam mengurus rumah tangga, dan menunaikan tanggung jawabnya kepada suami dan anak-anaknya, menggiling gandum dengan tangannya sendiri, sehingga pecah-pecah tangannya, menolong fakir miskin dan mereka yang memerlukan pertolongan, membantu dalam banyak peperangan dan merawat ayahandanya dalam keadaan luka, dan berbagai tugas lainnya, semua itu tidak menjadi halangan dan rintangan dalam menunaikan ibadah sholatnya terutama dimalam hari, sehingga saidina Hasan anandanya berkata:

"Tiap malam aku melihat ibuku melakukan sholat terutama di malam Jum'at, aku mendengar ibuku selalu mendo'akan terlebih dahulu untuk seluruh kaum Mukminin dan Mukminat, sehingga aku pernah bertanya:

"Mengapa Ibu tidak pernah berdo'a untuk diri ibu sendiri seperti ibu berdo'a kepada orang lain.?"

Ibu hanya menjawab:"Kita perlu berdoa untuk tetangga terlebih dahulu, kemudian barulah untuk keluarga sendiri.......!"

Hasan al-Basri pernah berkata :"Dalam ummat ini tidak ada wanita yang begitu tekun beribadah, melebihi Sitti Fatimah Azzahra. Beliau terus menerus sholat sehingga kakinya bengkak. "Apa yang dilakukan Siti Fatimah adalah sama seperti yang telah dilakukan oleh ayahandanya Muhammad Rasulallah s.a.w. dan beliau mencintai orang lain melebihi kecintaan kepada dirinya sendiri.

Fatimah Azzahra hidup dan dibesarkan dibawah naungan ayahandanya dan bimbingan suaminya sendiri, Imam Ali bin Abi Thalib k.w. seorang pejuang Islam yang terkemuka.

Fatimah Azzahra menyaksikan sendiri betapa kesusahan dan kesulitan yang telah dialaminya oleh ayahandanya dalam menegak, mempertahankan dan mengembangkan ajaran Islam. Beliau dan keluarganya mengalami sendiri masa penderitaan yang telah dialami oleh ayahanda dan suaminya dalam banyak peperangan sehingga mencapai kejayaan.

Pandangan Ahlul Bayt Berkenaan Nabi SAW

Pandangan Ahlul-Baiyt Berkenaan Nabi SAW
Oleh Ustaz Syed Hasan Alatas



Melalui Muhammad s.a.w. Allah s.w.t. memberi petunjuk kepada seluruh Ummat, jalan yang benar yaitu jalan yang diredhai oleh Allah s.w.t. Melalui perjuangan yang tidak pernah berputus asa, Rasulallah s.a.w., dan keturunannya telah berjaya menyebarkan Islam keseluruh pelosok dunia, dengan tidak mengharapkan upah ataupun ganjaran dari manusia, sesuai dengan firman Allah s.w.t. dalam firmannya yang bermaksud,

"Katakanlah (hai Muhammad), Aku tidak meminta apa-apa upah daripada kamu sekalian dalam dakwah ini, melainkan kecintaan terhadap keluarga." (Q.S.Asysyura:23)
Ayat ini diturunkan karena meskipun Rasulallah s.a.w. telah bersusah payah menyelamatkan bangsa Arab yang kehidupan mereka sebelumnya berada dalam zaman kegelapan, kesesatan, berpecah belah, kezaliman, dan tidak dipedulikan dunia sekelilingnya menuju zaman cahaya yang terang benderang, zaman kebenaran, zaman keadilan, zaman perpaduan, sehingga bangsa Arab menjadi satu ummat yang bersatu padu dan disegani dunia seluruhnya. Rasulullah s.a.w. telah menyelamatkan manusia dari kesesatan. Mereka diajarkan supaya hanya menyembah

Allah s.w.t. yang telah menciptakan alam dengan segala apa yang ada didalamnya.
Sebelumnya, perikemanusiaan yang berada dalam sifat-sifat kebinatangan, yang kuat, menindas yang lemah, yang kaya memeras yang miskin telah bertukar kepada sifat penuh kemanusiaan dan pembelaan terhadap mereka yang lemah dan teraniaya. Masa jahiliyah yang penuh dengan kebodohan sehingga mudah ditipu dan dipermainkan oleh penguasa yang zalim, telah bertukar dengan zaman mencintai Ilmu Pengetahuan yang telah banyak melahirkan cerdik pandai Islam yang telah mengembangkan berbagai Ilmu Pengetahuan yang berguna untuk seluruh manusia dan makhluk lain.

Rasulullah s.a.w. dan keturunannya yang beriman dan bertaqwa kepada Allah s.w.t. telah menjelajah seluruh pelosok dunia, untuk menyebarkan Islam dan ajarannya yang benar.
Meskipun demikian jerih payah yang telah dilaksanakan oleh Rasulullah s.a.w. dan keluarganya yang terdekat, oleh karena manusia yang sifatnya suka melupakan jasa orang yang telah berjasa, habis manis sepah dibuang, maka Nabi mengingatkan Ummatnya bahwa, Nabi s.a.w. tidak mengharapkan apa-apa upah, hanya Nabi s.a.w. mengharapkan Ummatnya tahu berterimakasih dan mengenang jasa, dengan cara menyayangi dan mengasihi keluarga Rasulallah s.a.w. yang beriman dan bertaqwa serta berjuang dalam meninggikan Islam dan ajarannya yang benar.

Oleh karena ramai manusia yang tidak memperdulikan lagi pesanan Nabi s.a.w. sekarang ini, maka apa yang telah terjadi didunia Islam sekarang ini. Mereka berpecah belah menjadi golongan kecil, yang bersaing antara satu dan lainnya. Mereka berpecah belah menjadi negara-negara kecil yang yang bergantung nasib kepada musuh-musuh Islam. Mereka terpaksa tunduk kepada musuh dengan menggadaikan marwah dan semua apa yang mereka miliki. Sehingga ajaran Islam yang memerintahkan supaya Ummat Islam berjuang dalam satu barisan seumpama sebuah bangunan yang kukuh yang saling menguatkan satu dengan lainnya, telah berubah menjadi satu bangunan yang rapuh yang menunggu saat kehancurannya saja lagi.

Peringatan Nabi s.a.w. supaya Ummatnya saling bantu membantu antara satu dengan lain, tidak diamalkan sehingga jika ada ummat Islam yang sedang dalam kesusahan dan kesengsaraan kita dapat saksikan mereka tidak dipedulikan oleh ummat Islam yang mampu membantu. Anehnya yang memberikan bantuan ialah orang-orang yang bukan Islam yang sudah tentu terpaksa dibayar dengan bayaran yang sungguh mengecewakan ummat Islam seluruhnya.
Oleh karena itu jika kita Ummat Islam sekarang ini mengharapkan Islam dan Ummatnya menjadi satu Ummat yang mulia dan disegani dimasa yang akan datang, maka perlulah mereka mengikuti kembali perintah Allah dan Rasul-Nya Muhammad s.a.w. Mereka perlu bersatu padu kembali, bekerjasama dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan bersama, bertolak ansur dalam hal-hal kecil. Mereka berjuang dalam satu barisan seumpama satu bangunan yang kokoh saling kuat menguatkan, seumpama sebuah tubuh jika sebahagian disakiti yang lainnya juga ikut merasainya. Mereka saling tolong menolong dalam jalan yang benar dan bertaqwa kepada Allah dan tidak bertolong menolong dalam kejahatan dan saling bermusuh-musuhan dan tidak berpecah belah.

Insya-Allah dengan mengikuti contoh teladan yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad s.a.w.dan Ahlul Baiytnya Insya-Allah Islam dan Ummatnya akan kembali memperoleh kejayaannya kembali. Amin.

Siti Fatimah Az Zahra

Siti Fatimah Azzahra

Oleh Ustaz Syed Hasan Alatas


Allah berfirman yang bermaksud:

"Barangsiapa membantahmu tentang dia (Nabi Isa a.s.) setelah engkau menerima pengetahuan yang meyakinkan, maka katakanlah kepada orang itu, "Marilah kita panggil (kumpulkan) anak-anak kami dan anak-anak kamu, wanita-wanita kami dan wanita-wanita kamu, diri-diri kami dan diri-diri kamu, lalu marilah kita mohon kepada Allah supaya menjatuhkan kutukan-Nya kepada orang-orang yang berdusta". (Q.S.Aali 'Imran:61)

Ayat mubahalah ini diturunkan untuk menguatkan tentang kebenaran al-Quran yang menceritakan berkenaan Nabi Isa a.s. Ayat ini diturunkan pada tahun ke 10 hijrah kerana adanya tentangan dan pendustaan beberapa orang nasrani Najran yang menghadap Nabi s.a.w. Allah s.w.t. menyuruh Nabi s.a.w. mengatakan kepada mereka yang menentangnya, marilah kita ajak keluarga masing-masing ke satu lembah untuk berdoa'a kepada Allah s.w.t. supaya menjatuhkan kutukannya terhadap orang yang berdusta.

Lalu Nabi s.a.w. bersama keluarga baginda yang terdekat yaitu anak baginda Fatimah Azzahra, Saidina Ali bin Abi Thalib (menantu dan juga sepupu Nabi s.a.w.) dan cucu baginda al-Hasan dan al-Husain. Rasulallah s.a.w.menggendong saidina Husain yang masih kanak-kanak sambil mengganding Saidina Hasan yang sudah agak besar. Di belakang Rasulallah s.a.w. berjalan Siti Fatimah Azzahra dan Saidina Ali k.w. Mereka menuju ke lembah yang telah ditetapkan oleh kedua pihak.

Mubahalah itu tak jadi dilakukan karena pihak Nasrani Najran mengundurkan diri, karena mereka kuatir bencana akan menimpa mereka jika sekiranya mereka meneruskan juga mubahalah tersebut.

Siti Fatimah Azzahra putri bungsu Nabi s.a.w. meningkat dewasa bersamaan dengan pertumbuhan Islam disaat-saat menghadapi berbagai halangan dan rintangan dan disaat-saat amat genting. Siti Fatimah Azzahra dilahirkan pada hari Juma'at 20 Jumadil akhir tahun kelima sebelum Nabi s.a.w.menjadi Rasul. Ketika itu kaum Quraish sedang memperbaiki dan membangun kembali ka'bah disebabkan banyak kerusakan pada bangunan tersebut.

Siti Fatimah putri kesayangan Nabi s.a.w. mendapat gelaran Assidiqah (wanita terpercaya), Athahirah (wanita suci) al-Mubarakah (yang diberikahi Allah) dan yang paling sering disebutkan adalah Fatimah Azzahra (bunga yang mekar semerbak).

Jutaan Muslimat Ummat Nabi s.a.w. kemudian ramai yang menamakan putri mereka dengan Fatimah. Siti Fatimah Azzahra, lahir dan dibesarkan di bawah naungan wahyu Ilahi yang diterima oleh ayahandanya Muhammad s.a.w. Siti Fatimah dilahirkan dan dibesarkan ditengah keluarga suci. Siti Fatimah Azzahra menyaksikan sendiri betapa halangan dan rintangan yang telah dihadapi ayahandanya dalam memperjuangkan Islam. Pernah ketika Nabi s.a.w. dihina, dimaki hamun, malah diletakkan najis binatang ketika Nabi s.a.w. sedang sujud, menyembah Allah s.w.t., dengan tangisan kesedihan Siti Fatimah membersihkan tubuh Nabi s.a.w. dari kotoran yang taburkan oleh kaum Qurraish.

Memaafkan ketika mampu membalas

Allah berfirman dalam Hadith Qudsi:
Nabi Musa a.s telah bertanya kepada Allah:" Ya Rabb! Siapakah diantara hamba-MU yang lebih mulia menurut pandangan-MU" Allah berfirman :"ialah orang yang apabila berkuasa (menguasai musuhnya) dapat segera memafkan" (HQR Kharaithi dari Abu Hurairah)

Hamba yang dimaksud diatas adalah hamba yang berhati mulia, berlapang dada, bersikap toleran terharap musuh atau orang yang memusuhinya di saat ia berkuasa melakukan kehendaknya. Ia tidak membalas dendam terhadap orang itu, bahkan dia memaafkan karena Allah SWT semata. Orang itu tinggi kedudukannya disisi Allah SWT. Memaafkan, selain tinggi kedudukannya disisi Alah SWT juga menambah tinggi martabat dan derajat kita di masyarakat dan musuh.

Dalam tarikh dikemukakan perilaku dan ketinggian budi pekerti Rasullulah SAW :
1. Dalam Ghazwah (Perang Suci) Uhud, tatkala Rasul terluka pada muka dan giginya, berkatalah seorang sahabat: "cobalah tuan doakan agar mereka celaka" Rasul menjawab :"Aku sekali-kali tidak diutus untuk mela'nat seseorang, tetapi aku diutus kepada kebaikan dan rahmat". Lalu beliau berdoa :"Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui"

2. Dalam Ghazwah Uhud pula seorang budak hitam bernama Wahsyi yang dijanjikan kemerdekaan bila dapat membunuh Hamzah bin Abdul Muthallib paman Rasul, ternyata Wahsyi berhasil membunuh dan dimerdekakan. Setelah merdeka Wahsyi masuk Islam dan menghadap Rasul, serta menceritakan pembunuhan paman Rasul. Walaupun Rasul SAW menguasai Wahsyi namun beliau lebih memilih memaaafkan Wahsyi semata-mata karena Allah SWT.

Dalam Al-Quranul Karim, ayat mengenai memaafkan juga banyak didapati, diantaranya adalah :
" Balasan perbuatan jahat adalah kejahatan yang seimbang dengannya. Barangsiapa yang memaaafkan dan berlaku damai, pahalanya ada ditangan Allah" (QS, Asy Syura; 40)

Dalam Al Hadits, juga disebutkan:
Ada tiga hal yang apabila dilakukan akan dilindungi Allah dalam pemeliharaanNYA, ditaburi rahmat dan dimasukkannya ke daam surgaNya, yaitu : apabila diberi ia berterimakasih, apabila berkuasa ia suka memaafkan, dan apabila marah ia menahan diri (HR Hakim dan Ibnu Hibban dari Ibnu Abbas)

Dan masih banyak lagi contoh dan peristiwa yang melukiskan ketinggian Akhlak Rasullulah SAW, dimana semuanya dilakukan oleh beliau semata-mata mengharap Ridha Allah SWT. Ya Allah karuniailah kami sifat pemaaf, pengampun, dan lapang dada. Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang dapat menahan meluapnya kemarahan dan orang yang suka memaafkan orang lain.


Kamis, 07 Januari 2010

Kekuatan Shodaqoh

Ini pendapat Joe Vitale, penulis Spiritual Marketing. Juga pendapat banyak penulis lain yang dari pengalamannya mendapati bahwa semakin dia rela memberi (bersedekah) semakin banyak apa yang dia sumbangan itu kembali kepada dirinya dengan berlipat-lipat. Kalu dia nyumbang uang, maka (biasanya) akan datang uang. Kalau tenaga, maka akan kembali banyak bantuan. Kalau ilmu, maka akan kembali lebih banyak ilmu. Mereka menemukan bahwa "to give in order to get" adalah suatu hukum universal.

Sebentar, masih menurut orang-orang tersebut, hanya sedekah yang tulus lah yang akan menggetarkan semesta. Jadi tidak semua pemberian akan memberikan efek pengembalian yang diharapkan. Tentu saja ini bukan sok merasa lebih tahu tentang cara yang disukai Tuhan, ini adalah berbagi pengalaman apa yang mereka rasakan. Kisah-kisah mereka dikumpulkan dalam e-book "The Greatest Money-Making Secret in History!". Silahkan di download sendiri ya. http://www.plainwords.co.nz/greatestmms.pdf

Berikut ini cara bersedekah (menyumbang) yang mereka rasakan mampu menggetarkan spiritualitas mereka :

1. Bersedekahlah saat merasa ingin bersedekah, jangan sampai merasa terpaksa. Bila saat bersedekah kita justru merasa kesal, maka akan tertanam di bawah sadar bahwa bersedekah itu tidak enak, bahkan mengesalkan. Mungkin seperti kalau kita bayar parkir kepada preman di pinggir jalan. Ada perasaan terpaksa, tak berdaya, bahkan dirampok. Bukan karena besar kecilnya nilai uang, tapi rela tidaknya perasaan saat memberikan sumbangan. Kalau anda sedang suntuk, tunggu sampai hati lebih riang. Memberi dengan berat hati akan memberi asosiasi buruk ke alam bawah sadar.

2. Bersedekahlah kepada sesuatu yang disukai sehingga hati Anda tergetar karenanya. Mungkin suatu ketika Anda ingin menyumbang yatim piatu, di waktu lain mungkin menyumbang perbaikan jembatan, mungkin pelestarian satwa yang hampir punah, mungkin disumbangkan untuk modal usaha bagi seorang pemula. Intinya adalah Anda sebaiknya menyedekahkan pada hal yang membuat perasaan Anda tergetar. Setiap orang akan berbeda. Seringkali seseorang menyumbang ke tempat ibadah, tapi hatinya tidak sejalan, hanya karena kebiasaan. Menyumbang yang tak bisa dihayati tak akan menggetarkan kalbu.

3. Bersedekahlah dengan sesuatu yang bernilai bagi Anda. Kebanyakan wujudnya adalah uang, namun lebih luas lagi adalah benda yang juga anda suka, pikiran, tenaga, ilmu yang anda suka. Dengan menyumbang sesuatu yang anda sukai, membuat anda juga merasa berharga karena memberikan sesuatu yang berharga.

4. Bersedekahlah dalam kuantitas yang terasa oleh perasaan. Bagaimana rasanya memberi sedekah 25 rupiah? Bagi kebanyakan orang nilai ini sudah tidak lagi terasa. Untuk seseorang dengan gaji 1 juta, maka 50 ribu akan terasa. Bagi yang perpenghasilan 20 juta, mungkin 1 juta baru terasa. Setiap orang memiliki kadar kuantitas berbeda agar hatinya tergetar ketika menyumbang. Nilai 10 persen biasanya menjadi anjuran dalam sedekah (bukan wajib), mungkin karena sejumlah nilai itulah kita akan merasakan "beratnya" melepas kenikmatan.

5. Menyumbang anonim akan memberi dampak lebih kuat. Ini erat kaitannya dengan ketulusan, walaupun tidak anonim juga tak apa-apa. Dengan anonim lebih terjamin bahwa kita hanya mengharap balasan dari Tuhan (ikhlas).

6.Bersedekah tanpa pernah mengharap balasan dari orang yang anda beri. Yakinlah bahwa Tuhan akan membalas, tapi tidak lewat jalan orang yang anda beri. Pengalaman para pelaku kebanyakan menunjukkan bahwa balasan datang dari arah yang lain.

7. Bersedekahlah tanpa mengira bentuk balasan Tuhan atas sedekah itu. Walaupun banyak pengalaman menunjukkan bahwa kalau bersedekah uang akan dibalas dengan uang yang lebih banyak, namun kita tak layak mengharap seperti itu. Siapa tahu sedekah itu dibalas Tuhan dengan kesehatan, keselamatan, rasa tenang, dll, yang nilainya jauh lebih besar dari nilai uang yang disedekahkan.

Demikian berbagai hal yang berkaitan dengan prinsip bersedekah. Prinsip-prinsip ini sangat sesuai dengan petunjuk rasulullah Muhammad berkaitan dengan sedekah dan keutamaannya. Kalau tak salah, ada hadits yang menyatakan bahwa tak akan menjadi miskin orang yang bersedekah. Dijamin.

Selain itu bersedekah juga menghindarkan diri dari marabahaya.

Ada sebuah kisah yang kalau tak salah saya dapat dari Pak Jalaluddin Rakhmat tentang seorang yang ditunda kematiannya karena bersedekah. Suatu ketika rasulullah sedang duduk bersama para sahabat. Lalu melintaslah seorang yang memanggul kayu bakar. Tiba-tiba Rasulullah berkata kepada para sahabat, "Orang ini akan meninggal nanti siang."

Sorenya ketika Rasulullah duduk bersama para sahabat, melintaslah orang tersebut. Maka dipanggillah orang tersebut oleh rasul dan ditanya, "Aku diberitahu (malaikat) tadi pagi bahwa kamu akan menemui ajal siang tadi. Tapi kulihat kamu masih segar bugar. Apa yang telah kamu lakukan?" Kemudian orang itu berkisah bahwa tadi pagi dia membawa bekal makan siang. Lalu di tengah jalan bekal itu dia sedekahkan kepada orang yang membutuhkan. Selanjutnya, kata orang itu, saat kayu-kayu bakar diletakkan tiba-tiba seekor ular hitam keluar dari dalamnya. Rasulullah kemudian menjelaskan bahwa ular itulah yang sedianya akan mematuk orang tersebut, namundia berpindah takdir karena sedekahnya menghidarkan dia dari bahaya tersebut.

Kisah itu menunjukkan keutamaan sedekah yang bisa menghindarkan diri dari bahaya, sekaligus menujukkan bahwa cara Tuhan membalas sedekah tidak dalam bentuk dan jalan yang kita duga.

Menyakiti Si Iblis! Ternyata, bersedekah merupakan salah satu amalan yang dapat menyakiti Si Iblis. Berdasarkan percakapan Si Iblis dengan Sang Nabi, diketahui bahwa ketika Anda bersedekah, itu sama saja Anda membelah tubuh Si Iblis dengan gergaji. Dan dari percakapan ini diketahui pula empat manfaat bersedekah:

1. harta Anda akan diberkahi
2. kehidupan Anda akan disukai
3. segala macam musibah akan terhalau
4. sedekah Anda akan menjadi hijab antara Anda dengan api neraka

Di kesempatan lain, Sang Nabi pernah berpesan, “Belilah semua kesulitanmu dengan sedekah.” Khalifah Ali juga pernah berpesan, “Pancinglah rezeki dengan sedekah.” Nah, mengacu berbagai dalil, inilah rangkuman manfaat sedekah:

1. melipatgandakan rezeki (10 kali, 700 kali, bahkan lebih)
2. memudahkan urusan
3. memudahkan keturunan
4. memelihara kesehatan
5. memanjangkan umur
6. menolak bala
7. membersihkan harta
8. membuat kita tidak terlalu cinta akan harta
9. membuat Dia tambah sayang sama kita
10. menjadi pahala dan salah satu pintu surga

Allah pun telah menjanjikan, kalau kita menginginkan perniagaan yang tidak mungkin merugi, maka penuhilah tiga syarat. Pertama, baca Al-Qur’an. Kedua, dirikan sholat. Ketiga, sedekah baik secara diam-diam maupun terang-terangan (QS 35: 29).

Munajah Sayidina Ali bin Abi Thalib


Segala puji bagi-Mu, wahai Pemilik Kedermawanan, Keagungan, dan Ketinggian.Engkau Maha Agung, memberi dan mencegah siapa yang Kau kehendaki.

Hanya kepada-Mu aku mengadu di saat sulit dan bahagia, wahai Tuhanku, Penciptaku, Pelindungku dan Suakaku

Ilahi, jika dosa telah menumpuk, maka maaf-Mu lebih agung dan lebih lapang dari dosaku

Ilahi, jika kuturuti segala kehendak nafsuku, maka kini aku berkelana di sahara penyesalan.

Ilahi, Engkau melihat kefakiran dan kepapaanku, sedangkan Engkau mendengar munajatku yang tersembunyi

Ilahi, jangan Kau putus harapanku dan jangan biarkan hatiku tersesat, karena asaku tertumpu pada aliran karunia-Mu
Ilahi, jangan Kau sia-siakan daku atau Kau campakkan aku, maka siapa lagi yang dapat kuharap dan kujadikan penyafaat
Ilahi, lindungilah aku dari siksa-Mu, karena aku adalah hamba-Mu yang terpenjara, hina, takut dan bersimpuh pada-Mu
Ilahi, bahagiakanlah aku dengan mengajarkan hujjahku bila aku sudah kembali ke alam kuburku
Ilahi, jika Kau siksa daku seribu tahun, maka temali harapanku kepada-Mu tak kan terputus

Ilahi, biarkan aku merasakan manisnya maaf-Mu pada hari tiada keturunan dan harta yang bermanfaat di sana

Ilahi, jika Kau tak menjagaku, niscaya aku kan binasa, dan jika Kau memeliharaku, maka aku takkan binasa

Ilahi, jika Engkau tak maafkan pendosa, maka siapakah yang kan memaafkan orang jahat yang berlumuran hawa nafsu?

Ilahi, jika aku teledor dalam mencari ketakwaan, maka kini aku berlari mengejar maaf-Muilahi, jika aku berbuat kesalahan tanpa sepengetahuanku, aku selalu mengharap-Mu sehingga orang-orang berkata, “Alangkah tidak takutnya ia!”
Ilahi, dosa-dosaku telah menumpuk bak gunung menjulang, namun ampunan-Mu lebih agung dan tinggi dari dosaku

Ilahi, mengingat karunia-Mu dapat menyelamatkan bara (hati dan kekhawatiran)ku, sedangkan mengingat dosa-dosa, maka mengucurlah air mataku

Ilahi, maafkanlah kesalahanku dan musnahkanlah dosa-dosaku, karena aku mengaku, takut dan bersimpuh di haribaan-Mu

Ilahi, berilah kebahagiaan dan ketenangan kepadaku, karena aku tak kan mengetuk pintu selain-Mu

Ilahi, jika Kau usir aku atau Kau hinakan aku, maka apa dayaku dan tak ada yang bisa kuperbuat, ya Rabbi?

Ilahi, pencinta-Mu kan terjaga sepanjang malam, bermunajat dan memohon kepada-Mu, sedangkan orang yang lupa akan terlelap tidur

Ilahi, makhluk ini berada di antara dua tidur, maka kala sadar ia bersimpuh di malam hari.Mereka semua mengharap karunia agung-Mu, mengharap rahmat-Mu yang agung dan menginginkan keabadian

Ilahi, asaku memberikan sebuah harapan kebahagiaan, sedang keburukan dosaku akan menghinakanku

Ilahi, jika Kau memaafkanku, maka maaf-Mu adalah penyelamatku, dan jika tidak, aku kan hancur dengan dosa yang membinasakan ini

Ilahi, bangkitkanlah aku untuk agama Muhammad dan segera bertaubat, bertakwa, khusyu’ dan bersimpuh di haribaan-Mu

Ilahi, jangan Kau halangi aku dari syafaatnya yang agung, karena syafaatnya pasti terkabulkan. Curahkan sholawat atas mereka selama para muwahhid memohon dan orang-orang saleh bermunajat bersimpuh di pintu-Mu

–Ali bin Abi Thalib–

Google Translate

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
"Hai orang yang beriman, jika kamu menolong (Agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu" (QS 47.7)

Info Palestina